TUHAN LEBIH TAHU

Layaknya bernapas, manusia berdosa setiap hari. Kita berbohong, berbuat curang, korupsi, berkhianat bahkan melukai manusia lain, namun layaknya penyakit, dosa ada obatnya. Kita percaya bahwa cara yang paling ampuh untuk menggugurkan dosa adalah meminta maaf, baik kepada manusia lain maupun kepada Tuhan. Pernah suatu kali kita berkunjung ke rumah Tuhan dengan penyesalan-penyesalan, dengan alasan-alasan, dengan janji-janji agar digugurkan dosanya. Di lain waktu, kita datang kepada manusia lain untuk meminta maaf dengan penyesalan juga sedikit air mata.

Continue reading

Advertisements

Mencari.

Aku pernah melihatmu sedang mencari di kerumunan. Mencari rumah, katamu. Kau seperti orang gila yang tak tahu arah, kau biarkan dirimu dilahap ramai, ditelan bulatbulat, dimuntahkan kembali saat hujan.

Berteduhlah disini. Biar kuceritakan kepadamu; rumahmu tak lagi disana. Wajahmu memucat, tapi aku terlanjur menangkap matamu. Kau bercermin pada genangan air hujan, “Aku membenci hujan karena aku tak bisa pulang.” Percayalah Ra, kau tak punya alasan untuk pulang.

Sayangnya, separuh jiwamu ingin tetap mencari. Kau sendiri bertanya, “Untuk apa?” Rupanya kau hanya merindukan sepasang mata itu.

Demi Tuhan, Ra! Aku paham benar rasa luka itu. Dan kau tahu benar bahwa luka serupa daun; mengering lalu gugur satu per satu. Yang perlu kau lakukan saat ini hanya berpurapura mengeringkan luka, menutup bagiannya yang menganga. Sampai kau lupa terluka karena apa, terluka oleh siapa.

Ra, jika kau tak dapat mencintai hujan, setidaknya berjanjilah untuk jatuh cinta pada air matamu. Agar kau tak meneteskannya dengan siasia.


Depok | 10 Oktober 2017 | 4:35

Aku pulang ke rumah, kepadamu. Tapi kau tak disana. Saat kutanya dimana. Kau sedang menjadi rumah. Rumah baginya. 

 

Dramaturgi

Namaku Re.

Hanya Re karena penciptaku terlalu pelit dalam memberi nama. Aku lahir dan dibesarkan dalam pikiran seorang anak perempuan yang belakangan ku ketahui bernama Gabriela. Selama 17 tahun aku berperan sebagai laki-laki yang tangguh. Setidaknya tangguh adalah karakter yang diinginkan sang penulis naskah untuk ditampilkan di hadapan penonton.

Jika sedang tidak di atas panggung, aku sibuk menulis puisi, meminum kopi, dan mencium bau buku atau petrichor. Aku yang sebenarnya adalah seorang melankolis. Seseorang yang akan mengagumi perempuan dari kejauhan, yang akan membuatkannya puisi setiap hari, dan mencintainya dalam diam. Namun aku tidak pernah menunjukkan bagian dari diriku yang sunyi ini.

Erving Goffman dalam teori dramaturginya menjelaskan bahwa hidup adalah sebuah pertunjukan, dimana manusia adalah aktor yang sedang memainkan peran di atas panggung sandiwara. Panggung sandiwara ini dibagi menjadi dua bagian; front stage (panggung depan) dan back stage (panggung belakang).

Sebagian besar hidupku habis di depan panggungtempat aku menyampaikan naskah yang sudah aku hapalkan di hadapan orang banyak. Terkadang aku tidak perlu naskah, aku akan memainkan drama secara spontan. Bagiku sandiwara sama saja dengan berpura-pura. Aku akan menampilkan sisi terbaikku dengan menonjolkan karakter tangguh agar penonton menyukaiku.

Sayangnya, mereka tidak pernah tahu apa yang terjadi di belakang panggung. Oh! Kecuali mereka yang menyaksikanku berlatih di belakang panggung. Mereka tahu semuanya! Di belakang panggung aku tidak perlu berakting dan memakai pakaian yang rapi. Di belakang panggung, aku menjadi diriku sendiri.

Jika kau bertanya mengapa tidak aku tunjukkan saja karakter asliku di depan panggung? Naskahku tidak berkata demikian, sayang. Dan penontonku bisa jadi tidak menyukainya. Satu hal yang aku ketahui selama menjadi aktor; panggung ini banyak mengajarkanku untuk berpura-pura, dan bahagia dalam kepura-puraan.

Batam 2017.


Gambar dipinjam dari sini

 

Pertanyaan

Re, jika tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional bukan sebagai Hari Ki Hajar Dewantara, dan 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional bukan sebagai Hari Budi Oetomo, mengapa 21 April diperingati sebagai Hari Kartini bukannya Hari Emansipasi Perempuan?

Semoga pertanyaanku tidak konyol, Re. Dan semogakau tidak sama bingungnya denganku.


Sumber gambar disini

When Women Don’t Own the Road

It’s like that sick, sinking feeling you get when you’re walking down the street minding your own business and some guy yells out vulgar words about your body. Or when you see that guy at work that stands just a little too close, stares a little too long, and makes you feel uncomfortable in your own skin. —Michelle Obama

        It was night and there were not many people around. I was walking home, along a dark road. Some men were whistling and looking at me; complimenting how good my body was. Well, it was not a compliment. A compliment does not make me rethink my route the next time I walk down the street. It is already 2017, but I—and many women in the world—are still fighting for the right to live in a safe world where we can walk down the street without fear of being harassed.

        Irrespective of geographic location, race, age, or appearance, many women say they’ve heard something along the lines of “Hey, baby! Where are you going?” or “How you doing, Sexy?” I have to admit that I get those statements on daily basis, no matter day or night, since I was 12. Yes, 12 years old.  While some people might consider them compliments, others consider them threats. Sadly, those threats that have no name tend to stay hidden and inadequately addressed.

       A nonprofit organization, Stop Street Harassment (SSH) uses “street harassment” to describe gender-based harassment in public spaces. According to SSH, street harassment is unwanted comments, gestures, and actions that forced on a stranger in a public place without their consents and is directed at them because of their actual or perceived sex, gender, expression, or sexual orientation. Continue reading

Crepuscular

4 Januari

Debu menggosokkan tubuhnya pada kaca – kaca jendela. Dari bingkai kayu yang pucat itu, semesta mengintip. Di luar, jalan tampak membosankan seperti lembaran esai yang ku baca pukul 3 pagi. Sesekali mesin kendaraan menyela sepi. Untungnya, di dalam ruang 3 x 4, dengan lampu yang menggantung di tengah dan cahaya yang sedikit ragu, aku tidak sendiri.

Aku sedang bercakap – cakap. Bukan. Ini bukan monolog. Aku sedang berbicara dengan seseorang. Ia duduk di seberang meja. Wajahnya sedikit pucat atau mungkin karena ras kaukasia. “Disini sangat dingin.” Senyumnya sedatar garis langit.

“Kau tahu. Umumnya, lelaki menyukai perempuan, tetapi aku menyukai makanan.” imbuhnya.

“Dan kau juga harus tahu. Aku tidak berkencan dengan pria. Aku mengencani sepotong pizza!” balasku, “Berbicara denganmu sangat menyenangkan.”

“Kenapa?”

“Seperti berbicara dengan seorang teman lama.”

Hari ini aku mendapatkan teman baru.

  Continue reading