Dramaturgi

Namaku Re.

Hanya Re karena penciptaku terlalu pelit dalam memberi nama. Aku lahir dan dibesarkan dalam pikiran seorang anak perempuan yang belakangan ku ketahui bernama Gabriela. Selama 17 tahun aku berperan sebagai laki-laki yang tangguh. Setidaknya tangguh adalah karakter yang diinginkan sang penulis naskah untuk ditampilkan di hadapan penonton.

Jika sedang tidak di atas panggung, aku sibuk menulis puisi, meminum kopi, dan mencium bau buku atau petrichor. Aku yang sebenarnya adalah seorang melankolis. Seseorang yang akan mengagumi perempuan dari kejauhan, yang akan membuatkannya puisi setiap hari, dan mencintainya dalam diam. Namun aku tidak pernah menunjukkan bagian dari diriku yang sunyi ini.

Erving Goffman dalam teori dramaturginya menjelaskan bahwa hidup adalah sebuah pertunjukan, dimana manusia adalah aktor yang sedang memainkan peran di atas panggung sandiwara. Panggung sandiwara ini dibagi menjadi dua bagian; front stage (panggung depan) dan back stage (panggung belakang).

Sebagian besar hidupku habis di depan panggungtempat aku menyampaikan naskah yang sudah aku hapalkan di hadapan orang banyak. Terkadang aku tidak perlu naskah, aku akan memainkan drama secara spontan. Bagiku sandiwara sama saja dengan berpura-pura. Aku akan menampilkan sisi terbaikku dengan menonjolkan karakter tangguh agar penonton menyukaiku.

Sayangnya, mereka tidak pernah tahu apa yang terjadi di belakang panggung. Oh! Kecuali mereka yang menyaksikanku berlatih di belakang panggung. Mereka tahu semuanya! Di belakang panggung aku tidak perlu berakting dan memakai pakaian yang rapi. Di belakang panggung, aku menjadi diriku sendiri.

Jika kau bertanya mengapa tidak aku tunjukkan saja karakter asliku di depan panggung? Naskahku tidak berkata demikian, sayang. Dan penontonku bisa jadi tidak menyukainya. Satu hal yang aku ketahui selama menjadi aktor; panggung ini banyak mengajarkanku untuk berpura-pura, dan bahagia dalam kepura-puraan.

Batam 2017.


Gambar dipinjam dari sini

 

Advertisements

Pertanyaan

Re, jika tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional bukan sebagai Hari Ki Hajar Dewantara, dan 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional bukan sebagai Hari Budi Oetomo, mengapa 21 April diperingati sebagai Hari Kartini bukannya Hari Emansipasi Perempuan?

Semoga pertanyaanku tidak konyol, Re. Dan semogakau tidak sama bingungnya denganku.


Sumber gambar disini

When Women Don’t Own the Road

It’s like that sick, sinking feeling you get when you’re walking down the street minding your own business and some guy yells out vulgar words about your body. Or when you see that guy at work that stands just a little too close, stares a little too long, and makes you feel uncomfortable in your own skin. —Michelle Obama

        It was night and there were not many people around. I was walking home, along a dark road. Some men were whistling and looking at me; complimenting how good my body was. Well, it was not a compliment. A compliment does not make me rethink my route the next time I walk down the street. It is already 2017, but I—and many women in the world—are still fighting for the right to live in a safe world where we can walk down the street without fear of being harassed.

        Irrespective of geographic location, race, age, or appearance, many women say they’ve heard something along the lines of “Hey, baby! Where are you going?” or “How you doing, Sexy?” I have to admit that I get those statements on daily basis, no matter day or night, since I was 12. Yes, 12 years old.  While some people might consider them compliments, others consider them threats. Sadly, those threats that have no name tend to stay hidden and inadequately addressed.

       A nonprofit organization, Stop Street Harassment (SSH) uses “street harassment” to describe gender-based harassment in public spaces. According to SSH, street harassment is unwanted comments, gestures, and actions that forced on a stranger in a public place without their consents and is directed at them because of their actual or perceived sex, gender, expression, or sexual orientation. Continue reading

Crepuscular

4 Januari

Debu menggosokkan tubuhnya pada kaca – kaca jendela. Dari bingkai kayu yang pucat itu, semesta mengintip. Di luar, jalan tampak membosankan seperti lembaran esai yang ku baca pukul 3 pagi. Sesekali mesin kendaraan menyela sepi. Untungnya, di dalam ruang 3 x 4, dengan lampu yang menggantung di tengah dan cahaya yang sedikit ragu, aku tidak sendiri.

Aku sedang bercakap – cakap. Bukan. Ini bukan monolog. Aku sedang berbicara dengan seseorang. Ia duduk di seberang meja. Wajahnya sedikit pucat atau mungkin karena ras kaukasia. “Disini sangat dingin.” Senyumnya sedatar garis langit.

“Kau tahu. Umumnya, lelaki menyukai perempuan, tetapi aku menyukai makanan.” imbuhnya.

“Dan kau juga harus tahu. Aku tidak berkencan dengan pria. Aku mengencani sepotong pizza!” balasku, “Berbicara denganmu sangat menyenangkan.”

“Kenapa?”

“Seperti berbicara dengan seorang teman lama.”

Hari ini aku mendapatkan teman baru.

  Continue reading

Memutus Rantai Kekerasan Seksual


Kekerasan seksual adalah soal relasi kuasa; antara digdaya dan tak berdaya.

Yang tak berdaya akan diintimidasi, sebab digdaya tak mau rugi.

Yang digdaya bersikap tenang, toh di mata hukum akan tetap menang.

Tak heran jika banyak yang memilih bungkam, ketimbang mengungkap kasus yang memalukan

Karena di negeri kita terlalu panjang jalan pembuktian, namun cukup satu alasan untuk disalahkan:

Karena kamu perempuan


                Menjadi perempuan di dunia Adam bukan perkara mudah, sebab kemuliaan diukur dari seberapa dalam buah dada dan kemaluan disembunyikan. Apalagi jika sudah menyangkut soal kekerasan seksual, tubuh perempuan bahkan dianggap dosa dan godaan. Perempuan yang mengalami kekerasan seksual bahkan harus menerima tuduhan karena sengaja menggoda dengan berpakaian terbuka. Ironisnya, kekerasan seksual justru dianggap sebagai jalan pertaubatan agar perempuan mau menutup tubuhnya rapat-rapat. Dalam hal ini perempuan harus rela tubuhnya diregulasi demi menciptakan kenyamanan bagi laki-laki.

                  Jika pakaian adalah pemicu kekerasan seksual, bagaimana dengan perempuan berpakaian tertutup dan anak kecil yang masih mendapat perlakuan tidak pantas? Saya mengenal seorang perempuan, berjilbab, dan berpakaian tertutup. Namun ia masih mengalami pelecehan seksual baik secara verbal maupun non-verbal. Kemudian menilik kasus yang terjadi tempo lalu, tentang anak kecil berseragam putih biru yang dinodai dengan keji. Tidak dituduh pasal pakaian, tetapi disalahkan karena berjalan sendirian. Dalam kasus tersebut, kekerasan seksual terjadi bukan karena korban berpakaian terbuka, berwajah cantik, atau berperilaku menggoda, melainkan karena ia perempuan. Continue reading

Di Sebuah Bar

“Kota ini lebih hidup di malam hari.” katamu diantara belasan toko minuman itu.

Kita mampir di salah satu bar dengan nyala lampu paling terang.

Kau tampak menikmati dentuman musik dan keramaian di lantai dansa.

Aku meminum segelas anggur, sementara kau meminum tiga botol vodka dan segelas Tequila. Gila!

“Aku mencintaimu.” katamu. Tapi kau sedang mabuk.

 

Depok, 2015.

 

Surat Cinta

          Kau; dandelion muda yang sedang menikmati masa remajamu dengan mengatas namakan cinta. Kau; yang selalu berkutat dengan mesin ketik tua milik ayahmu, yang selalu merangkai kata-kata serapi mungkin, memilih aksara yang tepat agar dapat kau jadikan ornamen dalam sajakmu. Agaknya kau memang perfeksionis dalam berkarya.

             Bagimu cinta segalanya. Tak perlu kau cari definisinya, merasakan saja sudah cukup untukmu. Karena ini cinta pertamamu, kau tak kan membiarkannya pupus hanya karena rasa keingintahuanmu. Ya, ini cinta pertamamu.

          Di bait pertama suratmu, bumi terasa hangat walau musim semi belum tiba. Kau benar-benar jatuh cinta, jatuh sedalam-dalamnya, segila-gilanya. Perasaan yang kau ubah dalam bentuk kalimat begitu indah bahkan kau sendiri tak mampu merengkuh pesonanya. Lalu kau mulai mengenang setiap rinci perjalanan; dimulai kau mengenal, berjuang, lalu mempertahankan.Kamu adalah perjalanan terbaik, batinmu. Tanpa kau sadari, kaulah pengagum yang sempurna; mengasihi tanpa pamrih. Kau mulai membual tentang cinta yang tak memiliki jeda, rindu yang tak memiliki ruang, kalimat yang tak memiliki spasi. Kau tenggelam dalam cerita cinta yang kau karang sendiri. Kalimat terakhir di bait pertamamu; aku mencintaimu. Lalu wajahmu bersemu merah, seperti gadis kecil yang baru saja mendapat boneka.

          Continue reading