Surat Cinta

          Kau; dandelion muda yang sedang menikmati masa remajamu dengan mengatas namakan cinta. Kau; yang selalu berkutat dengan mesin ketik tua milik ayahmu, yang selalu merangkai kata-kata serapi mungkin, memilih aksara yang tepat agar dapat kau jadikan ornamen dalam sajakmu. Agaknya kau memang perfeksionis dalam berkarya.

             Bagimu cinta segalanya. Tak perlu kau cari definisinya, merasakan saja sudah cukup untukmu. Karena ini cinta pertamamu, kau tak kan membiarkannya pupus hanya karena rasa keingintahuanmu. Ya, ini cinta pertamamu.

          Di bait pertama suratmu, bumi terasa hangat walau musim semi belum tiba. Kau benar-benar jatuh cinta, jatuh sedalam-dalamnya, segila-gilanya. Perasaan yang kau ubah dalam bentuk kalimat begitu indah bahkan kau sendiri tak mampu merengkuh pesonanya. Lalu kau mulai mengenang setiap rinci perjalanan; dimulai kau mengenal, berjuang, lalu mempertahankan.Kamu adalah perjalanan terbaik, batinmu. Tanpa kau sadari, kaulah pengagum yang sempurna; mengasihi tanpa pamrih. Kau mulai membual tentang cinta yang tak memiliki jeda, rindu yang tak memiliki ruang, kalimat yang tak memiliki spasi. Kau tenggelam dalam cerita cinta yang kau karang sendiri. Kalimat terakhir di bait pertamamu; aku mencintaimu. Lalu wajahmu bersemu merah, seperti gadis kecil yang baru saja mendapat boneka.

                    Kau berhenti sejenak, mengatur nafas karena euforia sesaat. Jemarimu mulai melemas, pandanganmu tertuju pada bingkai foto berlapis kaca yang menggantung tepat 45 derajat dari tempatmu duduk bersila. Kau tatap lekat-lekat sosok yang terpenjara dalam bingkai itu. “Seandainya kau tahu…” ucapmu lirih, bahkan tak terdengar karena bunyi dari kotak musik klasikmu terlalu keras. Kenangan berjatuhan, menyita waktumu untuk sesekali menyadari betapa pahitnya perasaan yang kau pertahankan sendiri. Pahamilah, tak selamanya kisah cinta itu romantis. Setiap yang datang pasti akan pergi karena tiada yang abadi. Kau mulai memahami, berjuang bukan berarti mendapatkan, mempertahankan bukan berarti memiliki. Kini kau mulai menyadari bahwa yang kau genggam hanya harapan.

~*~

Pahit.

            Dan kau hanya bisa menutup rapat rasa pahit di hatimu. Karena kau sedang bertahan sendiri, terluka sendiri karena mengagumi seseorang yang hanya kau ketahui namanya bukan sejarahnya. Kalau saja aku tak mengenalmu, mungkin tak kan pernah ada perjalanan seperti ini, sesalmu. Kau pun terdiam, memandangi replika dirimu sendiri pada cermin berbingkai kayu pelitur yang terletak tak jauh dari tempatmu meringkuk kesakitan. Itu kau, pemilik wajah muram karena menelan rasa pahit bahkan kau menyesal telah melihat bayanganmu sendiri. Menyedihkan.

                    Kau ingin jarum jam di hadapanmu bergerak berbalik arah, kau ingin kembali ke masa tiga tahun lalu sebelum kau merasakan indahnya jatuh cinta. Padahal kau sendiri mengerti, tiada yang lebih kikir daripada sang waktu, ia tak kan bergerak berbalik walau sedetik.

          Waktu bergulir, kau pun memulai baris pertama pada bait kedua. Air matamu menggenang, menumpuk di pelupuk. Mungkin akan lebih baik jika kau tumpahkan saja. Separuh jiwamu berharap agar kau mampu membenci setiap kenangan, berhenti menghadap mesin ketik, lalu pergi bermain kembang api. Separuh jiwamu ingin kau bahagia dengan melupakan tanpa memaafkan. Namun separuh jiwamu yang lain memintamu untuk tetap tinggal, berlama-lama di depan mesin ketik hanya untuk menulis surat cinta. Separuh jiwamu menginginkan kau mencintainya; selamanya. Kau pun menangis sejadi-jadinya.

          Kata “kita” mulai menggantung di pikiranmu. Di bait kedua, kau tumpahkan segala rasa tentang “kita” yang kau miliki. Imajinasimu terlampau jauh, sangat jauh membuatmu semakin memahami “kita” terlalu akrab, sementara kau sedang sendiri tidak bersamanya. Betapa seluruh nafasmu rela menemanimu larut dalam kesedihan

~*~

          Dia yang mengenalmu, tetapi tak pernah tahu perasaanmu. Seandainya hati mampu berbicara tanpa harus dipaksa. Semua cinta selalu berharap menemui akhir yang indah, tak terkecuali kau. Yang kau butuhkan saat ini adalah seseorang yang mampu meyakinkanmu bahwa kau bisa jatuh cinta lagi bahkan lebih gila lagi. Tidak akan ada lagi bualan cinta yang kau rangkum dalam aksara-aksara, kau harus lebih gila. Terkadang cinta butuh ekspresi.

          Sepasang bola matamu lelah tergenang air mata sementara hatimu meminta agar kau tetap terjaga. Jiwamu tak rela jika kau menyerah begitu saja. Sejumput harapan yang kau genggam di tangan kananmu tak mau pergi, akan terus bertengger disana hingga kau benar-benar mendapatkan cintamu. Harapanmu ingin kau menulis sejarah bersamanya, selamanya.

~*~

          Tiba di bait terakhir kau kehabisan kata-kata, mencari kamus pujangga, membuka ensiklopedia, menggali catatan-catatan sastra. Sebaiknya jangan berlebihan, biarkan hatimu berbicara.  Percayalah, semua ini ada akhirnya. Kau hanya perlu memastikan satu langkah ke depan dapat membawamu ke arah perubahan, dimana jiwamu yang lama tertinggal karena kau hidup dalam bumi revolusi. Nantinya kau hanya mengingat cinta lamamu sebagai sejarah, dan kau tahu benar sejarah tak akan terulang. Kau menyerah, membiarkan bendera putih berkibar di akhir kalimatmu; kau patah hati.

          Kau adalah bukti bahwa setiap cinta memiliki ruang sepi, tempat untuk menyendiri, tempat yang memiliki sudut untuk meringkuk dan menangis. Menangislah, kau bukan satu-satunya jiwa yang kesepian.

~*~

          Air matamu menjadi saksi jika kau pernah menyerah atas nama cinta. Tiap tetes air matamu tak menyesal karena tiada yang mubazir selama kau merasa nyaman. Menangislah, karena ini yang terakhir. Tersenyumlah, karena kau tak hanya jatuh cinta sekali.

        Akhirnya kau berpaling dari mesin ketik tua milik ayahmu, seluruh jiwamu menyerah. Kau tak perlu khawatir, akan banyak cinta yang menunggumu. Yang kau perlukan hanya waktu, untuk lebih sabar dalam menempatkan seseorang dalam hatimu. Menarilah, terus berputar-putar diiringi Antonio’s song dari kotak musik vintage mu. Betapa atmosfer di sekelilingmu memohon agar kau tersenyum.

          Di ruang itu kau sendiri, dengan kotak musik dan sepotong jiwa yang baru.

~*~

          Aku pernah menulismu dalam lembar buram, menamainya surat cinta agar kau tahu surat itu memiliki tujuan, bukan hanya untukku sendiri. Aku percaya, suratku ini akan sampai padamu. Entah kapan, entah bagaimana.

Purworejo, 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s