Crepuscular

4 Januari

Debu menggosokkan tubuhnya pada kaca – kaca jendela. Dari bingkai kayu yang pucat itu, semesta mengintip. Di luar, jalan tampak membosankan seperti lembaran esai yang ku baca pukul 3 pagi. Sesekali mesin kendaraan menyela sepi. Untungnya, di dalam ruang 3 x 4, dengan lampu yang menggantung di tengah dan cahaya yang sedikit ragu, aku tidak sendiri.

Aku sedang bercakap – cakap. Bukan. Ini bukan monolog. Aku sedang berbicara dengan seseorang. Ia duduk di seberang meja. Wajahnya sedikit pucat atau mungkin karena ras kaukasia. “Disini sangat dingin.” Senyumnya sedatar garis langit.

“Kau tahu. Umumnya, lelaki menyukai perempuan, tetapi aku menyukai makanan.” imbuhnya.

“Dan kau juga harus tahu. Aku tidak berkencan dengan pria. Aku mengencani sepotong pizza!” balasku, “Berbicara denganmu sangat menyenangkan.”

“Kenapa?”

“Seperti berbicara dengan seorang teman lama.”

Hari ini aku mendapatkan teman baru.

 

5 Januari

“Bukankah ini sudah pagi?”

Aku mengangguk. Lelah melilit tubuh, namun percakapan ini terlalu seru.

“Aku baik – baik saja.”

“Kau perlu tidur dan aku perlu makan malam. Sampai jumpa.” Ia tahu aku berbohong.

Percakapan hari ini berakhir sebelum subuh menyapu mataku.

 

6 Januari

Hidupku hari ini dapat diukur dari cangkir – cangkir kopi di atas meja, lembaran revisi yang berserak, dan nyala lampu yang semakin tua. Sepi mengudara di setiap pojok ruangan. Hingga ia tiba lagi, duduk di seberang meja.

Kami selalu berjumpa di saat hari tak terlalu malam baginya, dan tak terlalu pagi bagiku. Makhluk senja. Crepuscular. Begitu kami menjuluki diri sendiri.

“Sudah pukul berapa?”

“Pukul 8 malam. Biar ku tebak, kau sedang makan siang.”

Lalu kami berbicara soal ayam, kentang, jamur dan tomat panggang dengan potongan alpukat serta minyak olive. Sungguh, berbicara soal makanan tidak akan membuat kami bosan. Ia menyukai makanan yang sehat, sedangkan aku pemakan segala. Maksudku, tidak sepertinya, aku pecinta junk food. Demi Tuhan! Aku akan mengencani chef di Pizza Hut jika ia berjanji membuatkanku pizza seumur hidup!

Aku menggosok – gosokan telapak tangan pada secangkir keramik.

“Kopi?” tanyaku.

“Sudah berapa cangkir kopi yang kau minum hari ini?”

“Hmmm… entahlah. Aku tahu kau tidak meminum kopi. Tapi kopi adalah hidupku.”

“Kau harus menerapkan hidup yang lebih sehat.”

Aku mengangguk tanda setuju sambil meneguk kopi pada cangkir yang ketujuh.

 

7 Januari

Ia mengetuk pintu, lalu duduk di seberang meja. Aku menutup tirai – tirai, kalau saja ia ingin segera tidur. “Tidak sekarang.” ia menyeka wajah yang agak merah.

Aku baru saja mengenalnya dua hari lalu, namun aku sudah tahu ritual akhir pekannya. Ia akan menghabiskan waktu berjam – jam dengan teman – teman kerjanya di sebuah bar. Menghabiskan berbotol – botol bir hingga tak sanggup mengangkat kepala.

“Aku telah bersumpah pada diriku sendiri untuk tidak minum. Aku memang bodoh.”

“Kau sendiri yang bilang akan menjalani gaya hidup yang sehat. Mengapa?”

“Entahlah. Rasanya menyenangkan bisa menghabiskan akhir pekan dengan teman – teman.”

“Kau hanya perlu memesan jus lemon lain kali.”

“Sungguh aneh.”

“Aku tidak pernah minum.”

“Ku tebak, pasti karena agamamu.”

“Tidak juga. Aku pernah mencoba seteguk alkohol. Rasanya aneh.”

“Kau harus mencoba alkohol dengan rasa buah. Hahaha…”

Hari ini kami berbicara tentang berbagai jenis minuman, hingga ia tertidur.

10 Januari

Dia duduk di tempat biasanya. Tangannya memberi kode agar aku segera mengganti lampu – lampu yang tua. Tapi, untuk apa? Gelap terlanjur menyapu langit kamar. Satu – satunya sumber cahaya pada ruang ini adalah layar komputerku.

“Aku benci perayaan.” keluhku.

“Kau tak perlu datang. Tapi selamat atas kelulusanmu. Sudah mendapat pekerjaan?”

“Aku mendapat tawaran. Tak terlalu yakin untuk mengambilnya.”

“Keren! Aku ingin tahu banyak tentang hal ini. Tapi sebaiknya kau siapkan dulu gaunmu”

Hari ini kami berbicara tentang kelulusanku yang tinggal menghitung hari.

11 Januari

Mungkin ada saatnya kamu bertemu dengan seseorang yang memiliki banyak kesamaan sekaligus perbedaan denganmu. Persamaan membuat hubungan kalian semakin kuat. Namun, kalian tidak membenci perbedaan. Layaknya puzzle, perbedaan yang kalian miliki justru membentuk sebuah gambar yang utuh. Seseorang yang dapat menguatkan sekaligus melengkapimu. Seseorang yang (mungkin) memenangkan hati dan pikiranmu.

Sayangnya, perbedaan yang paling jahat adalah jarak dan waktu. Aku ingin mengutuk jarak karena ketika aku merindukannya, aku tak dapat memeluknya. Dan aku ingin menghancurkan waktu karena siang di kotanya adalah malam di kotaku.

“Aku menyukaimu.” bisiknya selisih angin petang.

“Siapa yang tak suka denganku?”

“Kali ini, aku tidak bercanda.”

Pada doaku yang entah ke berapa, aku meminta kembali sepuluh detik yang telah ku sia – siakan karena tidak menjawab, “Aku juga menyukaimu.”

12 Januari

Tidak ada percakapan hari ini.

13 Januari

“Apakah kau nyata?” tanyamu.

“Kau tidak percaya?”

“Jangan dipikirkan. Aku hanya bercanda.”

21 Januari

“Apa kabar, Q?”

 

6 Februari

“Halo, Q! Kau disana?”

9 Februari

“Apakah kau nyata?” tanyaku.

 

Tak ada lagi percakapan di hari – hari berikutnya. Layar komputer di hadapanku masih menyala, tetapi ia tidak lagi ada di seberang meja. Lampu yang tua akhirnya padam. Tidak ada lagi cahaya yang ragu. Aku menyibak tirai. Debu kembali menggosokkan tubuhnya pada kaca – kaca jendela. Di luar, jalan semakin membosankan. Sementara di ruang 3 x 4, aku sedang berbicara pada diri sendiri; tidak ada skenario yang harus ku buat lagi.  

14 Februari

It’s nice to know you, Q. Live well. Love, G.

Hari ini aku kehilangan seorang teman.

 

Jakarta 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s