Memutus Rantai Kekerasan Seksual


Kekerasan seksual adalah soal relasi kuasa; antara digdaya dan tak berdaya.

Yang tak berdaya akan diintimidasi, sebab digdaya tak mau rugi.

Yang digdaya bersikap tenang, toh di mata hukum akan tetap menang.

Tak heran jika banyak yang memilih bungkam, ketimbang mengungkap kasus yang memalukan

Karena di negeri kita terlalu panjang jalan pembuktian, namun cukup satu alasan untuk disalahkan:

Karena kamu perempuan


                Menjadi perempuan di dunia Adam bukan perkara mudah, sebab kemuliaan diukur dari seberapa dalam buah dada dan kemaluan disembunyikan. Apalagi jika sudah menyangkut soal kekerasan seksual, tubuh perempuan bahkan dianggap dosa dan godaan. Perempuan yang mengalami kekerasan seksual bahkan harus menerima tuduhan karena sengaja menggoda dengan berpakaian terbuka. Ironisnya, kekerasan seksual justru dianggap sebagai jalan pertaubatan agar perempuan mau menutup tubuhnya rapat-rapat. Dalam hal ini perempuan harus rela tubuhnya diregulasi demi menciptakan kenyamanan bagi laki-laki.

                  Jika pakaian adalah pemicu kekerasan seksual, bagaimana dengan perempuan berpakaian tertutup dan anak kecil yang masih mendapat perlakuan tidak pantas? Saya mengenal seorang perempuan, berjilbab, dan berpakaian tertutup. Namun ia masih mengalami pelecehan seksual baik secara verbal maupun non-verbal. Kemudian menilik kasus yang terjadi tempo lalu, tentang anak kecil berseragam putih biru yang dinodai dengan keji. Tidak dituduh pasal pakaian, tetapi disalahkan karena berjalan sendirian. Dalam kasus tersebut, kekerasan seksual terjadi bukan karena korban berpakaian terbuka, berwajah cantik, atau berperilaku menggoda, melainkan karena ia perempuan. Continue reading

Advertisements

Di Sebuah Bar

“Kota ini lebih hidup di malam hari.” katamu diantara belasan toko minuman itu.

Kita mampir di salah satu bar dengan nyala lampu paling terang.

Kau tampak menikmati dentuman musik dan keramaian di lantai dansa.

Aku meminum segelas anggur, sementara kau meminum tiga botol vodka dan segelas Tequila. Gila!

“Aku mencintaimu.” katamu. Tapi kau sedang mabuk.

 

Depok, 2015.

 

Surat Cinta

          Kau; dandelion muda yang sedang menikmati masa remajamu dengan mengatas namakan cinta. Kau; yang selalu berkutat dengan mesin ketik tua milik ayahmu, yang selalu merangkai kata-kata serapi mungkin, memilih aksara yang tepat agar dapat kau jadikan ornamen dalam sajakmu. Agaknya kau memang perfeksionis dalam berkarya.

             Bagimu cinta segalanya. Tak perlu kau cari definisinya, merasakan saja sudah cukup untukmu. Karena ini cinta pertamamu, kau tak kan membiarkannya pupus hanya karena rasa keingintahuanmu. Ya, ini cinta pertamamu.

          Di bait pertama suratmu, bumi terasa hangat walau musim semi belum tiba. Kau benar-benar jatuh cinta, jatuh sedalam-dalamnya, segila-gilanya. Perasaan yang kau ubah dalam bentuk kalimat begitu indah bahkan kau sendiri tak mampu merengkuh pesonanya. Lalu kau mulai mengenang setiap rinci perjalanan; dimulai kau mengenal, berjuang, lalu mempertahankan.Kamu adalah perjalanan terbaik, batinmu. Tanpa kau sadari, kaulah pengagum yang sempurna; mengasihi tanpa pamrih. Kau mulai membual tentang cinta yang tak memiliki jeda, rindu yang tak memiliki ruang, kalimat yang tak memiliki spasi. Kau tenggelam dalam cerita cinta yang kau karang sendiri. Kalimat terakhir di bait pertamamu; aku mencintaimu. Lalu wajahmu bersemu merah, seperti gadis kecil yang baru saja mendapat boneka.

          Continue reading

Prolog


“Menulislah, maka dunia tahu kau pernah ada. Jiwamu mungkin fana, namun karyamu abadi.”


Sejak kecil saya suka membaca dan menulis cerita fiksi. Saya tumbuh bersama karakter yang diciptakan Lewis Carroll, Roald Dahl, Charles Dickens, dan Christian Andersen. Saya juga tumbuh bersama karakter yang saya ciptakan sendiri: Freya.

Hari ini saya memutuskan untuk menulis dan mengunggahnya di blog ini. Saya percaya bahwa sebaik apapun kenangan yang dibuat manusia, pada akhirnya ketika ia mati, kenangan itu akan mati bersamanya. Ia akan dikubur, orang – orang menghadiri pemakamannya dan menangis, tetapi setelah itu ia membusuk dan orang – orang mulai melanjutkan hidup; melupakannya. Namun tidak untuk karyanya.

Sebagaimana saya percaya bahwa tulisan adalah bukti eksistensi manusia yang paling nyata, maka ia tak layak untuk dibungkam. Ada dunia yang ingin saya bagikan, sebuah dunia yang tak mengenal makam. Dan entah bagaimana saya dikenang nanti. Setidaknya, tulisan disini membuktikan bahwa saya pernah ada.

P.s. Saya tidak pandai merangkai aksara, tetapi saya akan mencoba agar tulisan disini layak untuk dibaca. Terima kasih 🙂

picture3