Pertanyaan

Re, jika tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional bukan sebagai Hari Ki Hajar Dewantara, dan 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional bukan sebagai Hari Budi Oetomo, mengapa 21 April diperingati sebagai Hari Kartini bukannya Hari Emansipasi Perempuan?

Semoga pertanyaanku tidak konyol, Re. Dan semogakau tidak sama bingungnya denganku.


Sumber gambar disini

When Women Don’t Own the Road

It’s like that sick, sinking feeling you get when you’re walking down the street minding your own business and some guy yells out vulgar words about your body. Or when you see that guy at work that stands just a little too close, stares a little too long, and makes you feel uncomfortable in your own skin. —Michelle Obama

        It was night and there were not many people around. I was walking home, along a dark road. Some men were whistling and looking at me; complimenting how good my body was. Well, it was not a compliment. A compliment does not make me rethink my route the next time I walk down the street. It is already 2017, but I—and many women in the world—are still fighting for the right to live in a safe world where we can walk down the street without fear of being harassed.

        Irrespective of geographic location, race, age, or appearance, many women say they’ve heard something along the lines of “Hey, baby! Where are you going?” or “How you doing, Sexy?” I have to admit that I get those statements on daily basis, no matter day or night, since I was 12. Yes, 12 years old.  While some people might consider them compliments, others consider them threats. Sadly, those threats that have no name tend to stay hidden and inadequately addressed.

       A nonprofit organization, Stop Street Harassment (SSH) uses “street harassment” to describe gender-based harassment in public spaces. According to SSH, street harassment is unwanted comments, gestures, and actions that forced on a stranger in a public place without their consents and is directed at them because of their actual or perceived sex, gender, expression, or sexual orientation. Continue reading

Memutus Rantai Kekerasan Seksual


Kekerasan seksual adalah soal relasi kuasa; antara digdaya dan tak berdaya.

Yang tak berdaya akan diintimidasi, sebab digdaya tak mau rugi.

Yang digdaya bersikap tenang, toh di mata hukum akan tetap menang.

Tak heran jika banyak yang memilih bungkam, ketimbang mengungkap kasus yang memalukan

Karena di negeri kita terlalu panjang jalan pembuktian, namun cukup satu alasan untuk disalahkan:

Karena kamu perempuan


                Menjadi perempuan di dunia Adam bukan perkara mudah, sebab kemuliaan diukur dari seberapa dalam buah dada dan kemaluan disembunyikan. Apalagi jika sudah menyangkut soal kekerasan seksual, tubuh perempuan bahkan dianggap dosa dan godaan. Perempuan yang mengalami kekerasan seksual bahkan harus menerima tuduhan karena sengaja menggoda dengan berpakaian terbuka. Ironisnya, kekerasan seksual justru dianggap sebagai jalan pertaubatan agar perempuan mau menutup tubuhnya rapat-rapat. Dalam hal ini perempuan harus rela tubuhnya diregulasi demi menciptakan kenyamanan bagi laki-laki.

                  Jika pakaian adalah pemicu kekerasan seksual, bagaimana dengan perempuan berpakaian tertutup dan anak kecil yang masih mendapat perlakuan tidak pantas? Saya mengenal seorang perempuan, berjilbab, dan berpakaian tertutup. Namun ia masih mengalami pelecehan seksual baik secara verbal maupun non-verbal. Kemudian menilik kasus yang terjadi tempo lalu, tentang anak kecil berseragam putih biru yang dinodai dengan keji. Tidak dituduh pasal pakaian, tetapi disalahkan karena berjalan sendirian. Dalam kasus tersebut, kekerasan seksual terjadi bukan karena korban berpakaian terbuka, berwajah cantik, atau berperilaku menggoda, melainkan karena ia perempuan. Continue reading