Memutus Rantai Kekerasan Seksual


Kekerasan seksual adalah soal relasi kuasa; antara digdaya dan tak berdaya.

Yang tak berdaya akan diintimidasi, sebab digdaya tak mau rugi.

Yang digdaya bersikap tenang, toh di mata hukum akan tetap menang.

Tak heran jika banyak yang memilih bungkam, ketimbang mengungkap kasus yang memalukan

Karena di negeri kita terlalu panjang jalan pembuktian, namun cukup satu alasan untuk disalahkan:

Karena kamu perempuan


                Menjadi perempuan di dunia Adam bukan perkara mudah, sebab kemuliaan diukur dari seberapa dalam buah dada dan kemaluan disembunyikan. Apalagi jika sudah menyangkut soal kekerasan seksual, tubuh perempuan bahkan dianggap dosa dan godaan. Perempuan yang mengalami kekerasan seksual bahkan harus menerima tuduhan karena sengaja menggoda dengan berpakaian terbuka. Ironisnya, kekerasan seksual justru dianggap sebagai jalan pertaubatan agar perempuan mau menutup tubuhnya rapat-rapat. Dalam hal ini perempuan harus rela tubuhnya diregulasi demi menciptakan kenyamanan bagi laki-laki.

                  Jika pakaian adalah pemicu kekerasan seksual, bagaimana dengan perempuan berpakaian tertutup dan anak kecil yang masih mendapat perlakuan tidak pantas? Saya mengenal seorang perempuan, berjilbab, dan berpakaian tertutup. Namun ia masih mengalami pelecehan seksual baik secara verbal maupun non-verbal. Kemudian menilik kasus yang terjadi tempo lalu, tentang anak kecil berseragam putih biru yang dinodai dengan keji. Tidak dituduh pasal pakaian, tetapi disalahkan karena berjalan sendirian. Dalam kasus tersebut, kekerasan seksual terjadi bukan karena korban berpakaian terbuka, berwajah cantik, atau berperilaku menggoda, melainkan karena ia perempuan. Continue reading