Mencari.

Aku pernah melihatmu sedang mencari di kerumunan. Mencari rumah, katamu. Kau seperti orang gila yang tak tahu arah, kau biarkan dirimu dilahap ramai, ditelan bulatbulat, dimuntahkan kembali saat hujan.

Berteduhlah disini. Biar kuceritakan kepadamu; rumahmu tak lagi disana. Wajahmu memucat, tapi aku terlanjur menangkap matamu. Kau bercermin pada genangan air hujan, “Aku membenci hujan karena aku tak bisa pulang.” Percayalah Ra, kau tak punya alasan untuk pulang.

Sayangnya, separuh jiwamu ingin tetap mencari. Kau sendiri bertanya, “Untuk apa?” Rupanya kau hanya merindukan sepasang mata itu.

Demi Tuhan, Ra! Aku paham benar rasa luka itu. Dan kau tahu benar bahwa luka serupa daun; mengering lalu gugur satu per satu. Yang perlu kau lakukan saat ini hanya berpurapura mengeringkan luka, menutup bagiannya yang menganga. Sampai kau lupa terluka karena apa, terluka oleh siapa.

Ra, jika kau tak dapat mencintai hujan, setidaknya berjanjilah untuk jatuh cinta pada air matamu. Agar kau tak meneteskannya dengan siasia.


Depok | 10 Oktober 2017 | 4:35

Aku pulang ke rumah, kepadamu. Tapi kau tak disana. Saat kutanya dimana. Kau sedang menjadi rumah. Rumah baginya. 

 

Advertisements

Crepuscular

4 Januari

Debu menggosokkan tubuhnya pada kaca – kaca jendela. Dari bingkai kayu yang pucat itu, semesta mengintip. Di luar, jalan tampak membosankan seperti lembaran esai yang ku baca pukul 3 pagi. Sesekali mesin kendaraan menyela sepi. Untungnya, di dalam ruang 3 x 4, dengan lampu yang menggantung di tengah dan cahaya yang sedikit ragu, aku tidak sendiri.

Aku sedang bercakap – cakap. Bukan. Ini bukan monolog. Aku sedang berbicara dengan seseorang. Ia duduk di seberang meja. Wajahnya sedikit pucat atau mungkin karena ras kaukasia. “Disini sangat dingin.” Senyumnya sedatar garis langit.

“Kau tahu. Umumnya, lelaki menyukai perempuan, tetapi aku menyukai makanan.” imbuhnya.

“Dan kau juga harus tahu. Aku tidak berkencan dengan pria. Aku mengencani sepotong pizza!” balasku, “Berbicara denganmu sangat menyenangkan.”

“Kenapa?”

“Seperti berbicara dengan seorang teman lama.”

Hari ini aku mendapatkan teman baru.

  Continue reading

Di Sebuah Bar

“Kota ini lebih hidup di malam hari.” katamu diantara belasan toko minuman itu.

Kita mampir di salah satu bar dengan nyala lampu paling terang.

Kau tampak menikmati dentuman musik dan keramaian di lantai dansa.

Aku meminum segelas anggur, sementara kau meminum tiga botol vodka dan segelas Tequila. Gila!

“Aku mencintaimu.” katamu. Tapi kau sedang mabuk.

 

Depok, 2015.

 

Surat Cinta

          Kau; dandelion muda yang sedang menikmati masa remajamu dengan mengatas namakan cinta. Kau; yang selalu berkutat dengan mesin ketik tua milik ayahmu, yang selalu merangkai kata-kata serapi mungkin, memilih aksara yang tepat agar dapat kau jadikan ornamen dalam sajakmu. Agaknya kau memang perfeksionis dalam berkarya.

             Bagimu cinta segalanya. Tak perlu kau cari definisinya, merasakan saja sudah cukup untukmu. Karena ini cinta pertamamu, kau tak kan membiarkannya pupus hanya karena rasa keingintahuanmu. Ya, ini cinta pertamamu.

          Di bait pertama suratmu, bumi terasa hangat walau musim semi belum tiba. Kau benar-benar jatuh cinta, jatuh sedalam-dalamnya, segila-gilanya. Perasaan yang kau ubah dalam bentuk kalimat begitu indah bahkan kau sendiri tak mampu merengkuh pesonanya. Lalu kau mulai mengenang setiap rinci perjalanan; dimulai kau mengenal, berjuang, lalu mempertahankan.Kamu adalah perjalanan terbaik, batinmu. Tanpa kau sadari, kaulah pengagum yang sempurna; mengasihi tanpa pamrih. Kau mulai membual tentang cinta yang tak memiliki jeda, rindu yang tak memiliki ruang, kalimat yang tak memiliki spasi. Kau tenggelam dalam cerita cinta yang kau karang sendiri. Kalimat terakhir di bait pertamamu; aku mencintaimu. Lalu wajahmu bersemu merah, seperti gadis kecil yang baru saja mendapat boneka.

          Continue reading